Sabtu, 12 Oktober 2013

cerpen



AMPLOP
COKELAT

Brakkk !!!!!
Suara meja yang digebrak itu berdengung ditelingaku. Aku mengintip dari balik tirai, melihat apa yang terjadi diruang tamu dengan perasaan takut setengah mati. Kulihat dahi papa berkerut, wajahnya memerah dan tegang menahan amarah yang berkobar di dalam dirinya.
“Kalau Kau sudah tidak ingin kuanggap anak pergilah dari rumah ini. “ bentak papa dengan nada tinggi. Sejenak papa menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan berat.
Kakakku Raga hanya menunduk. Tubuhnya gemetar, tangannya mengepal sampai membuat otot-otot tangannya menyembul. Dengan penuh keberanian kakakku mengengkat dagunya, menatap papa dengan wajah kaku dan penuh kesedihan.
“Baiklah kalau ini yang Papa inginkan. “ ucap kakakku dengan suara yang bergetar. “Aku berterimakasih terlebih dahulu untuk kasih sayang yang sudah Papa berikan. Tapi maaf Pa, aku dan Papa tidak sejalan. Aku bukan orang yang bisa menghalalkan segala cara seperti Papa. “, lanjutnya.
“Cepat pergi !!!”, suruh papa dengan berteriak.
Kakakku tersenyum, senyum yang sangat menyakitkan.
“Jaga kesehatan Papa dan jaga baik-baik Atta. “, pesan kak Raga. Ia menyambar tasnya dan langsung pergi dengan langkah pelan.
“Jangan pernah kembali ke rumah ini, dan jangan oernah menganggapku orang tuamu lagi. Satu lagi, jangan pernah mengganggu keluargaku lagi. “,
Kak Raga menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Ia berhenti sejenak dengan tangan masih gemetar kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kebelakang lagi. Tubuhku seketika itu lemas, kakiku tidak kuat menopang beban tubuhku. Aku jatuh tersungkur di lantai dengan bulir air mata yang membuat pandanganku kabur.
Tanganku mencengkeram kerah baju yang kupakai. Aku mengerang, aku merasakan sakit yang teramat dalam. Tapi erangan itu hanya bisa kusuarakan di dalam hati.
***
Kesedihanku, lukaku, dan lubang yang menganga dengan besar di dalam hatiku sudah berangsur-angsur pulih meski tidak mungkin bisa seutuhnya pulih. Aku sadar betul dengan kemampanku, aku sadar betul siapa diriku sebenarnya. Aku bukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan luka dengan memberi berbagai resep obat. Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang akan terus merasa terluka selama orang yang kuharapkan itu belum kembali. Apa memiliki pendapat dan jalan sendiri yang berbeda itu salah ? Apa tidak boleh berjalan dengan arah yang berbeda ? Apa hal itu adalah sebuuah dosa besar ?
“ Saya harap Bapak bisa membantu mempermudah perizinan lahan baru  yang hendak aku gunakan untuk usaha. “, kata papa kepada seorang pria setengah baya yang menggunakan kaca mata tebal. Papa menggeser amplop warna cokelat yang tadi ada di depannya ke arah pria itu.
“Akan saya usahakan . “, balas pria itu sambil melihat ke dalam amplop yang diberikan oleh papa tadi.
“Dia anakku Pak Herman, namanya Renatta. Anakku inilah yang nantinya akan mewarisi perusahaan dan semua asetku jadi aku minta tolong agar Bapak mau membantu anakku agar semuanya lancar dengan mudah. “, kata papa sambil memandangku, senyum menghiasi bibir papa.
***
“Berhenti memaksaku Pa, aku tidak mau melakukan hal itu. “, teriakku dengan keras.
“Apa susahnya ? kau hanya perlu datang, memberikan uang dan semuanya selesai. “, balas papa.
“Aku bukan Papa !!! “, teriakku lagi dengan tangis yang sudah tidak bisa kubendung. Kini aku merasakan apa yang kak Raga rasakan.
“Papa menyuruhmu melakukan hal ini agar kau tahu apa yang nantinya harus Kau lakukan. “, lanjut papa masih dengan nada tinggi. “Jadi sekarang Kau ingin mengikuti jejak anak itu untuk pergi dari rumah ini? Kau ingin sepertinya ? Tidak kuanggap anak lagi?”
“Dulu aku mmang mengerti. Aku tak tahu apa alasan kak Raga pergi dari rumah tapi, sekarang aku tahu apa alasannya. Kak Raga benar.” Teriakku marah.
“Keluar dari rumah ini bila Kau tidak mau Papa atur lagi!!!”,tangan papa meremas bantal sofa dan matanya menatapku tajam.
“Apa Papa tahu kalau apa yang Papa lakukan itu salah? Menyuap banyak sekali orang agar mereka melakukan apa yang Papa inginkan. “
“Cari dan ikut laki-laki itu. Jangan kembali kee rumah ini!”
Dadaku naik turun menahan amarah , tangis dan perasaan tersiksa yang membaur menjadi satu membentuk sebuah sensasi yang luar biasa menyakitkan. Kuseka air mata yang keluar dari kedua mataku, semampuku. Aku berdiri dari sofa dan langsung berlari kembali ke  kamarku untuk mengmbil barang-barang yang sekiranya bisa kubawa.
Kumasukkan beberapa potong kaos dan celana ke dalam tas ranselku. Tanganku menyentuh dinding tembok kamarku. Menghirup dalam-dalam aroma dingin kamar yang selama 21 tahun kutinggali. Ini saat-saat terakhirku berada dalam kamar ini, selanjutnya tidak akan pernah lagi. Aku sudah diusir, aku bukan lagi menjadi bagian dari keluarga ini. Keluarga yang sejak 21 tahun lalu hanya berjumlah tiga orang, kemudian tiga tahun yang lalu hanya menjadi dua orang. Sekarang, hanya tinggal papa seorang, tidak ada yang lain. Sejujurnya aku tidak ingin meninggalkan papa tapi, aku sendiri sudah tidak kuat merasakan tekanan yang begitu menyakitkan. Aku tidak mau menjadi penjahat. Aku sudah benar-benar muak.  Aku tidak bisa bertahan lama di sini. Jalan yang diambil papa berbeda dengan hati nuraniku. Rasanya tidak percaya dan aku tidak menyangka papa melakukan hal itu. Laki-laki yang kubanggakan membuatku merasa begitu malu. Terlebih karena dengan tega dan jelas ia mengajariku untuk menjadi sepertinya.kenapa harus seperti ini. Menganggap sebuah hal hina sebagai  hal yang wajar dan biasa. Jadi, apa salah kalau orang yang melakukan hal itu disebut sebagai orang hina? Apakah salah besar?
“Jangan bawa fasilitas yang kuberikan untukmu. “, papa sudah tidak membahasakan dirinya dengan sebutan “ Papa”  lagi padaku.
“Aku tidak membawa fasilitas apapun yang Papa berikan untukku.”, balasku.
“Jaga kesehatan Papa, jangan terlalu banyak pikiran karena hal itu akan membuat kesehatan Papa menurun.”, pesanku.
Papa diam tak bergeming, rahangnya mengeras. Tubuhnya masih bergetar senada dengan tubuhky yang bergetar menahan tangis yang lagi-lagi tumpah. Aku tersenyum tipis pada papa tetapi, tidak dibalasnya. Ia memalingkan wajahnya dariku seolah sudah tidak peduli lagi padaku. Semua yang sudah keluar dari mulut papa pantang untuk ia tarik kembali. Sekali ia mengatakan kalau aku bukan lagi anaknya maka selamanya akan seperti itu. Sekali papa mengusirku dari rumah maka selamanya pula aku tidak akan dapat masuk kembali ke rumah itu karena papa tidak akan mengizinkannya. Dan selama papa masih seperti sekarang, aku tidak akan pernah mengikuti semua yang ia suruhkan. Mungkin memang harus berakhir seperti ini. Hubungan darah yang tidak mungkin terputus akhirnya terputus meskipun menyisakan seutas tali samar yang tidak dapat terliat dengan mata telanjang. Aku bukan lagi Gael Renatta Rahardi tapi sekarang aku hanyalah sebagai Gael Renatta. Perempuan yang tunduk pada kemauannya sendiri. Perempuan yang lebih memilih pergi dari rumah karena tidak sejalan dengan apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Perempuan yang mencoba untuk masuk dan berjalan di jalan yang benar meskipun begitu menyakitkan dan bisa membuat mati perlahan.
***
Untung aku masih memiliki kontak seorang teman kak Raga. Jika tidak, mana mungkin aku bisa berdiri berhadap-hadapan dengan seseorang yang sama sekali tidak berubah setelah tiga tahun tidak tahu kabarnya dan tidak bertemu dengannya.
“Maafkan Kakakmu ini.”, ucapnya lirih.
“Maafkan juga aku yang tidak bisa menjaga Papa.”, balasku dengan terisak.
Tangis masih menguasaiku dengan sepenuhnya. Pikiranku masih tertuju seutuhnya pada papa. Aku sama sekali tidak tega pada papa. Ia hidup sendiri tanpa siapapun, tanpa anak yang selalu ia bangga-banggakan akan menjadi penerusnya nanti. Penerus yang sengaja ia masukkan ke dalam rute perjalanan gelap dan tanpa cahaya terang.
“Sekarang aku mengerti kenapa waktu itu Kakak pergi dari rumah.”, ujarku pelan.
Kak Raga tersenyum. Ia membelai rambutku pelan kemudian memejamkan matanya sejenak.
“Hal ini memang menyakitkan Ta, mengetahui orangtua yang kita banggakan adalah seseorang yang sebenarnya tidak patut dicontoh.”, katanya pelan.
“Sampai kapanpun Papa akan seperti itu Kak.”, balasku. Kak Raga tersenyum, ia bangkit dari kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah kontrakannya kemudian pergi meninggalkanku sendirian.
Kehidupan kakakku begitu sederhana. Berbeda denganku yang hidup dengan serba mewah. Menikmati uang yang didapatkan dengan cara yang salah. Member uang pelican agar semua yang diinginkan mudah terlaksana. Tapi, apakah papa pernah berpikir kalau uang yang ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari adalah uang haram, uang yang didapatkan dengan cara yang tidak halal. Mengapa menjadi orang yang benar itu sangat sulit? Mengapa zaman sekarang ini menjadi orang yag bersih itu salah? Mengapa menjadi orang yang berjalan di jalan yang benar itu selau mendapat cacian, hinaan dan menjadi bahan tertawaan? Seolah-olah orang yang tidak hina itu merupakan benda mati dengan rupa yang begitu menggelikan sehingga pantas untuk dijadikan sebagai bahan tertawaan. Dunia memang begitu kejam. Dunia adalah opera yang dibuat sedemikian rupa. Penuh dengan jebakan dan berbagai bentuk hal fana yang dapat membuat terlena. Aku tidak bisa mengerti, aku tidak sanggup untuk memahami. Aku hanya bisa melakukan hal ini, hal yang kuanggap benar agar aku tidak terlena dan jatuh ke dalam lubang yang sama.
***
“Bangun Ta,.”, kak Raga mengguncang-guncang tubuhku dengan sedikit kasar.
  Mau tidak mau aku akhirnya aku membuka mataku. Memandang kearah kak Raga dengan penuh ketidakmengertian. Terlihat sekali dari mimic wajahnya kalau ia tengah gelisah, memikirkan suatu hal yang mengganjal.
“Ada apa Kak?”, tanyaku tidak mengerti.
“Cepat bangun, ganti pakaianmu dan iku Kakak.”, suruh kakakku.
“Memangnya ada apa Kak?”, tanyaku lagi dengan penasaran.
“Cepatlah!”, suruhnya dengan nada tinggi. “Nanti Kau akan tahu sebenarnya apa yang terjadi.”, lanjutnya sambil mendesah frustasi.
Tangan putihnya menyangga kepalanya yang terlihat begitu berat. Sesekali ia mengerang frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Bergegas aku menuju kamar mandi. Meninggalkannya yang masih duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangan. Ada hal buruk yang terjadi, jika tidak mana mungkin kak Raga sampai seperti itu.
***
“Kenapa kita ke Kantor Polisi?”, tanyaku bingung.
“Hal buruk yng Kakak takutkan akhirnya terjadi.”, jawab kakakku menggantung.
“Papa?”, tanyaku dengan suara parau karena air mata yang sudah mulai turun dari pelupuk mataku.
“Polisi menangkap papa saat ia tengah bertransaksi dengan seorang jaksa yang sebenarnya hanya umpan saja. Papa sudah tidak bisa mengelak lagi. “, jawab kak Raga lirih.
Ia kembali menyangga kepalanya denga tangan. Dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang tak beraturan. Sesekali ia mengerang, meredam rasa sakit yang teramat sangat. Aku bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh kakak.
“Tunggu.” ,kak Raga menahanku yang hendak berlari  masuk ke dalam Kantor Polisi untuk mencari papa. Aku ingin tahu bagaimana keadaanya, bagaimana keadaan orang yang begitu aku sayangi meski orang itu telah mengecewakanku dengan tindakannya itu.”, jaga sikapnmu, kita masuk bersama.
Aku mengangguk, kuseka air mataku dengan tangan. Kak Raga merangkul pundakku, menuntunku yang sudah berjalan sempoyongan. Memikirkan bagaimana keadaan papa di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana papa sekarang. Tertekan, sedih, kecewa,menangis. Menangis, aku tidak kuasa melihat papa menangis.
“Keluarga Bapak Dani Rahardi?”, tanya seorang polisi.
“Iya, kami anak Bapak Dani Rahardi.”, jawab kakakku.
Polisi itu menyuruh kami untuk masuk. Aku dan kak Raga berjalan masuk ke dalam ruangan putih dengan buah meja panjang dan beberapa kursi. Kami berdua duduk dengan tubuh yang masih berguncang hebat. Rasanya masih sama seperti tadi, tidak percaya kalau orang yang sekarang tengah meringkuk di dalam penjara adalah orangtua kami.
“Atta, Raga.”, sayup-sayup kudengar suara papa memanggil nama kami bedua.
Sontak aku berdiri dan langsung menghambur ke arah papa. Kupeluk tubuh papa dan langsung menumpahkan tangisku yang tidak bisa kutahan. Kak Raga membuntutiku dari belakang. Ia mencium punggung tangan papa kemudian, turut memeluk papa. Kudengar denga jelas papa terisak. Papa turut menangis, papa turut merasakan sakit yang kami rasakan bahkan mungkin rasanya lebih sakit dari apa yang kami rasakan.
“Maafkan Papa.”, ucah papa lirih.
Aku hanya bisa menangis didalam pelukannya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Begitupun dengan kak Raga, tangisnya pecah. Rasa rindunya akan sosok seorang papa selama bertahun-tahun kini terbayarkan dengan cara yang sangat menyakitkan. Saat papa berada di dalam kondisi terburuk dan terpuruk. Kuangkat wajahku, kutatap wajah papa yang meneteskan titik demi titik air mata yang lama kelamaan menjadi semakin deras. Aku mencoba untuk tersenyum dengan bibir yang bergetar. Memang harus seperti ini, memang hal inilah yang seharusnya terjadi. Papa tidak akan pernah sadar dengan kesalahan yang ia lakukan bila ia belum menikmati buah terpahit yang harus ia telan.
Sepucuk amplop berwarna cokelat. Begitu mudahnya berpindah tangan dari tangan satu ke tangan yang lain. Semua bisa diatasi dan dilakukan dengan begitu mudah hanya dengan amplop yang berisi belati yang dapat menusuk diri sendiri.apa yang ditanam nantinya akak dipetik buahnya. Apa yang ditebar nantinya harus dipungut kembali.
Meringkuk di dalam jeruji besi adalah sebuah akhir yang harus ijalani papa. Sudah sangat lama papa menikmati hidupnya yang indah yang penuh dengan manipulasi. Rasanya sakit dan terluka melihat orang tua yang sangat disayangi mendapat hukuman seperti ini. Tapi, memang harus seperti ini. Satu per satu orang yang melakukan tindakan seperti yang papa lakukan harus masuk menemani papa di dalam Hotel Prodeo, menikmati getah karet yang rasanya begitu pahit di dalamnya. Saat esok kembali menyingsing, tahun berganti dan wajah-wajah lama berubah baru kebiasaan ini mungkin belum hilang tapi akan berubah menjadi lebih baik bila orang-orang yang bersalah itu satu per satu diadili. Merasakan takdir terburuk mereka. Merasakan bagaimana menjadi orang yang ditertawai oleh orang-orang yang sebelumnya mereka tertawai. Jika, keadilan tidak ditegakkan akan jadi apa Negara ini kelak nantinya. Dan akan jadi apa bangsanya ini. Hidup dengan amplop cokelat yang bertebaran dimana-mana. Mencari tuan selanjutnya, agar suatu persoalan bisa terselesaikannya hanya dengan sekali kedipan mata.
Aku memang bersedih karena papa. Tapi, papa harus mendapatkan apa yang seharusnya papa dapatkan. Jika tidak, selamanya akan terus seperti ini. Mendarah daging, membentuk buntalan daging baru yang kekal daan tidak akan berubah.
TAMAT.

Kamis, 03 Oktober 2013

puisi Chairil Anwar



PUISI CHAIRI ANWAR

PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949

MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

1948
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)
Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954

—————————————————————————————————————————————-
AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti

DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…


SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949
—————————————————————————————————————————————-
NISAN
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta
DENGAN MIRAT
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946
TJERITA BUAT DIEN TAMAELA
Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu datu
Tjuma satu

Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut

beta pattiradjawane
ketika lahir dibawakan
datu dajung sampan

beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
beta api dipantai,siapa mendekat
tiga kali menjebut beta punja nama

dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala, badan perawan djadi
hidup sampai pagi tiba

mari menari !
mari beria !
mari berlupa !

awas ! djangan bikin bea marah
beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu !

beta ada dimalam, ada disiang
irama ganggang dan api membakar pulau …….

beta pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
tjuma satu

AKU BERADA KEMBALI
Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh

1949

Puisi Sapardi Djoko Damono

KUMPULAN PUISI  KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari


GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…

DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona
sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

HATIKU SELEMBAR DAUN

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…
Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

BUAT NING
pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu
januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

Pada Suatu Pagi Hari 

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

SAJAK KECIL TENTANG CINTA
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…
dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…
dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…


NOKTURNO
kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya
gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap…

HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

HUTAN KELABU DALAM HUJAN

Hutan kelabu dalam hujan
Lalu kusebut kembali kau pun kekasihku
Langit di mana berakhir setiap pandangan
Bermula kepedihan, rindu itu

Temaram temasa padaku semata
Memutih dari seribu warna
Hujan senandung dalam hutan
Lalu kelabu, mengabut nyanyian


SAJAK KECIL TENTANG CINTA

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
MencintaiMu(mu) harus menjadi aku


Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.

DI RESTORAN

Kita berdua saja,  duduk
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput kau entah memesan apa.
Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, memesan rasa lapar yang asing itu.

KETIKA KAU TAK ADA

ketika kau tak ada, masih tajam seru jam dinding itu
jendela tetap seperti matamu
nafas langit pun dalam dan biru, hanya aku yang
menjelma kata, mendidih, menafsirkanmu

kau mungkin jalan menikung-nikung itu
yang menjulur dari mimpi, yang kini
mesti kutempuh, sebelum sampai di muaramu
sungguh tiadakah tempat berteduh disini?

kalau tak ada di antara jajaran cemara itu
kepada Siapa meski kucari jejak nafasmu?
magrib begitu deras, ada yang terhempas
tapi ada goresan yang tak akan terkelupas

ANGIN 1
Oleh : sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak
dari sudut ke sudut dunia ini
pernah pada suatu hari berhenti
ketika mendengar suara nabi kita Adam
menyapa istrinya untuk pertama kali,
"hei siapa ini yang mendadak di depanku?"
angin itu tersentak kembali
ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali,
sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona
sebab tiba-tiba merasa scorang diri
di tengah bising-bising ini tanpa Hawa

ANGIN 2

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar
semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.


ANGIN 3
Oleh : sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku
tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.


AKULAH SI TELAGA
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
 

Dalam sakit

waktu lonceng berbunyi
percakapan merenda
kita kembali menanti-nanti
kau berbisik,
siapa lagi akan tiba?
siapa lagi menjemputmu
berangkat berduka?
di ruangan ini
kita kait dalam gema
di ruang malam hari
merenda keadaan rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi menanti-nanti
lonceng berbunyi

Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco

kabut yang likang
dan kabut yang pupuh
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan
matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan

sajak desember

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu
mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali
masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

1961

Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya
tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu
ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu